Pekalongan — Unit Pengembangan Bahasa UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan menyelenggarakan kegiatan diskusi rutin berbahasa Inggris sebagai upaya meningkatkan kemampuan bahasa asing dosen serta menumbuhkan budaya akademik yang aktif di lingkungan kampus. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 17 Desember 2025, bertempat di Smart Class Unit Bahasa, Gedung GPT lantai 2.
Diskusi dimulai pukul 09.00 WIB hingga menjelang waktu Dhuhur dan menghadirkan Dr. Nur Kholis, MA., Wakil Rektor I UIN Gus Dur Pekalongan, sebagai narasumber. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Kurikulum Cinta yang Sebenarnya”, yang dibahas secara komunikatif dan interaktif.Dalam sambutannya, Kepala Unit Bahasa UIN Gus Dur Pekalongan, Dr. H. Muhandis Azzuhri, MA., menyampaikan bahwa kegiatan diskusi ini merupakan upaya strategis untuk menumbuhkan atmosfer akademik serta membangun lingkungan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Arab. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Rencana Strategis (Renstra) UIN Gus Dur Pekalongan dan Unit Bahasa. Ia menegaskan bahwa program ini sejalan dengan arahan Rektor agar kualitas dan kompetensi bahasa asing civitas akademika terus meningkat sebagai sebuah keharusan di era transformasi digital, menuju terwujudnya UIN Gus Dur Pekalongan sebagai World Class University.
Kegiatan diskusi ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari para dosen, tutor bahasa Inggris dan Arab, serta mahasiswa aktivis UKM SPEAC. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi dan sesi tanya jawab yang berlangsung sepanjang kegiatan.
Diskusi berlangsung dinamis dengan beragam pertanyaan reflektif dan kritis dari para peserta. Penanya pertama, Dr. Muhammad Jaeni, M.Pd., M.Ag. (Wakil Dekan I FTIK), menyoroti pentingnya pengendalian cara berpikir dan sikap individu dalam menghadapi cognitive dissonance, serta bagaimana menyikapinya secara dewasa dan bertanggung jawab, khususnya dalam konteks peran sebagai pendidik dan profesional.
Selanjutnya, Dr. Kurdi, M.S.I. mengangkat diskursus mengenai Love Based Curriculum (LBC) dengan mempertanyakan hakikat cinta—apakah bersifat spiritual atau psikologis—serta bagaimana implementasinya dapat diwujudkan secara nyata dan relevan di lingkungan kampus.
Dari kalangan dosen bahasa Inggris, Ms. Riyan menegaskan bahwa cinta harus diwujudkan dalam tindakan nyata, kepedulian, dan komitmen. Ia mempertanyakan batas yang proporsional antara mengekspresikan cinta dan bersikap tegas agar penerapan kurikulum berbasis cinta tetap berjalan secara profesional.
Sementara itu, Mr. Khilmi, selaku tutor bahasa Inggris, mengangkat fenomena sosial yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kecenderungan menyalahkan pihak lain atas suatu peristiwa. Ia juga menyoroti kegelisahan Generasi Z dan Generasi Alpha terkait emosi marah, yaitu mengenai batas antara kemarahan sebagai emosi yang wajar dan ekspresi marah yang tidak dapat diterima secara sosial.
Dari unsur mahasiswa, Syafika, perwakilan anggota UKM SPEAC, turut menyampaikan pertanyaan mengenai pengelolaan emosi, khususnya tentang bagaimana menghadapi rasa bersalah setelah mengekspresikan kemarahan akibat perlakuan tidak adil, serta cara mengelola emosi marah secara sehat tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Diskusi ini mencerminkan kepedulian civitas akademika terhadap penguatan karakter, kedewasaan emosional, dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program English for Academic Purposes (EAP) yang dilaksanakan secara rutin setiap pertengahan bulan oleh Unit Bahasa. Melalui forum ini, diharapkan tercipta ruang pengembangan kapasitas civitas akademika yang berkelanjutan dalam bidang bahasa serta penguatan budaya akademik di UIN Gus Dur Pekalongan.
Kontributor : Muhammad Ulil Fahmi

